Tuesday, January 15, 2008

Evo Morales : Angin Perubahan dari Pegunungan Andez

Tak dapat disangkal bahwa situasi di Amerika Latin kini menjadi epicentrum gerakan sosial. Secara bergiliran di negeri-negeri amerika latin tersebut tampil sosok-sosok populis berhakuan kiri yang mengendalikan roda pemerintahan. Lula da Silva di Brazil, Hugo Chavez di Venezuela, Michelle Bachelet di Chile, Nestor Kichner di Argentina, Evo Morales di Bolivia dan dibeberapa kawasan lainnya di Amerika Latin. Mereka mencanangkan agenda SOSIALISME ABAD 21 di Amerika Latin, sekaligus meruntuhkan teori Francis Fukuyama yang meramal bahwa dunia akan segara memasuki fase “akhir sejarah” [the end of history]: kemenangan kapitalisme [neoliberal] dan demokrasi [liberal]. Apa yang dimaksud dengan “akhir sejarah” oleh Fukuyama bukan berarti dunia kehilangan peristiwa-peristiwa besar dan penting, melainkan bahwa sejarah berjalan secara tunggal, koheren, dan evolusioner. Bagi Fukuyama, masyarakat liberal demokratis yang didasarkan atas kapitalisme pasar-bebas, pada akhirnya akan mampu memenuhi kebutuhan manusia dalam hal stabilitas ekonomi, penghargaan terhadap diri sendiri, dan kehormatan.

Tampilnya sosok-sosok pemimpin populis di Amerika Latin inilah yang menggugurkan ramalan Francis Fukuyama tersebut, ramalan tentang dunia masa depan. Dan diantara deretan nama-nama tersebut, terselip satu nama yang kini masuk dalam barisan musuh nomor satu Amerika Serikat selain Hugo Chavez tentunya. Dialah Evo Morales. Presiden Bolivia pertama yang berasal dari bangsa pribumi Indian.

Nama ini sangat bersinar terang di langit Bolivia, sebuah negeri yang berada di kawasan pegunungan Andez. Lelaki kelahiran 26 Oktober 1959 di Aymara ini mempunyai nama lengkap Juan Evo Morales Aima, yang oleh pendukungnya cukup disapa Evo. Dengan berkendara Partai Gerakan Menuju Sosialisme (Movement Toward Socialism/MAS), pada 22 Desember 2005, Evo ditahbiskan sebagai pemenang pemilu Bolivia. Jumlah suara yang diperolehnya mencapai 53,899 persen. Jumlah ini melampaui angka perolehan suara yang diraih oleh Jorge Tuto Quiroga, mantan wakil presiden di bawah diktator Hugo Bánzer, dan Samuel Doria Medina, salah satu orang terkaya di negeri itu. Dengan peorlehan suara mayoritas, Evo dipastikan tak membutuhkan lagi pemungutan suara di Kongres untuk mengesahkannya sebagai presiden Bolivia berikutnya.

Apa sebenarnya yang menarik dari kemenangan Evo Morales ini? Bukankah pemilu adalah sebuah peristiwa biasa, sebuah proses yang wajar dari sebuah negara yang menganut sistem politik demokrasi? Menariknya, justru muncul dalam sosok Evo sendiri dan sejarah perjuangan rakyat Bolivia keseluruhan. Sejarah panjang dalam menentang kolonialisme, neoliberalisme dan campur tangan pemerintah AS yang sangat besar di negeri itu. Sejarah rakyat yang terpinggirkan akibat dogma kemaslahatan pasar bebas. Evo adalah salah satu figur yang berada di garis depan perlawanan itu. Ia tidak saja menyuarakan kepentingan masyarakat adat Indian yang merupakan populasi terbesar penduduk Bolivia tapi, juga terlibat aktif dalam mengorganisir, menggerakkan, dan memimpin perlawanan rakyat tersebut.

Sebelum terjun dalam arena perjuangan elektoral, Evo Morales adalah anggota dari gerilya bersenjata Tupac Katari, pada tahun 1990an. Keterlibatannya itu, mengantarkan dirinya ke penjara selama lima tahun. Selepas masa kurungan, sosok Evo tampil sebagai figur pembela kepentingan masyarakat adat Indian yang paling konsisten, khususnya dari suku terbesar Quecha dan Aymara. Pada saat yang sama, Bolivia menjadi target utama bagi penerapan kebijakan neoliberal, seperti privatisasi sektor air dan pertambangan, dan pemotongan anggaran untuk publik. Akibat dari kebijakan neoliberal ini, kesenjangan sosial semakin melebar, tingkat kesejahteraan hidup penduduk asli Indian semakin rendah, dimana menurut laporan Bank Dunia pada 2004, 74 persen masyarakat adat Bolivia hidup di bawah garis kemiskinan.

"Hampir dua per tiga masyarakat Indian adalah miskin di antara 50 persen penduduk termiskin. Jika distribusi berjalan sempurna, masyarakat adat Bolivia harus menerima pendapatan dua kali lipat lebih banyak di banding penduduk yang bukan masyarakat adat. Hanya dengan cara itu, mereka bisa tercerabut dari kemiskinannya," demikian tulis laporan itu.

Kebijakan neoliberal ini, berjalan beriringan dengan kepentingan pemerintah AS untuk menancapkan kukunya di kawasan Andean, dimana Bolivia menjadi batu loncatannya. Di negeri itu, Amerika mengampanyekan perang melawan narkotika. Itu artinya perang melawan masyarakat adat Indian, yang sebagian besar secara tradisional merupakan petani koka. Perang melawan kokain itu diwujudkan dengan dibentuknya satuan polisi khusus yang menangani perang melawan kokain ini. Tetapi, di balik kampanye bersenjata ini, tersembunyi kepentingan bisnis yang luar biasa besar yakni, menguasai sumberdaya alam terutama pertambangan, gas dan air. Itu sebabnya, walaupun ada operasi militer besar-besaran, produksi kokain di Bolivia kian meningkat dari tahun ke tahun. Ironi ini terus berjalan dari tahun ke tahun.

Sejarah panjang perjuangan, kemiskinan dan diskriminasi masyarakat adat, serta kepungan neoliberalism dan hegemoni AS, tidak menyurutkan langkah Evo Morales untuk terlibat dalam perjuangan rakyat. Ia bahkan tampil sebagai pemersatu gerakan sosial yang terkotak-kotak. MAS sendiri bukanlah sebuah partai politik yang solid dan terstruktur kuat. Ia lebih merupakan koalisi dari berbagai gerakan sosial, mulai dari gerakan tani, gerakan buruh hingga yang terkuat, gerakan masyarakat adat. Koalisi gerakan sosial dipandang sebagai metode terbaik untuk menghadapi gempuran neoliberalisme yang menghancurkan seluruh sektor kehidupan masyarakat. Dari sisi ini, tidak dikenal adanya kekuatan pelopor yang khusus, karena semuanya adalah pelopor. Mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama yang tercermin dalam platform MAS: nasionalisasi industri-industri strategis; pengurangan harga dan pembekuan harga barang-barang rumah tangga; penyediaan pelayanan dasar bagi semua; pembelaan terhadap pendidikan dan kesehatan gratis bagi publik; peningkatan pajak bagi kaum kaya; penghapusan korupsi; redistribusi lahan kerja; aparatus politik yang baru; penghapusan kebijakan ekonomi neoliberal; dan penentangan terhadap tenaga kerja "fleksibel."

Demikianlah, peranannya sebagai organiser, penggerak, dan pemimpin gerakan rakyat menjadikan Evo sebagai musuh nomor satu pemerintah AS. Ia dituduh sebagai seorang "narco-teroris," dan merupakan "ancaman bagi stabilitas" di kawasan itu. Mantan duta besar AS di Bolivia, Manuel Rocha, dalam pemilu presiden 2002, pernah mengancam rakyat Bolivia agar tidak memilih Evo, yang disebutnya sebagai “narco-cocaine producer” and “instrument” dari Hugo Chavez dan Fidel Castro. Jika rakyat tetap memilih Evo, maka pemerintah AS akan mempertimbangkan untuk menghentikan bantuannya kepada Bolivia ("I want to remind the Bolivian electorate that if you elect those who want Bolivia to become a major cocaine exporter again, this will endanger the future of U.S. assistance to Bolivia"). Hasilnya, dalam pemilu tahun itu, Evo hanya menempati posisi kedua.

Simbol Perlawanan Masyarakat Adat Indian
Di sisi sebaliknya, Evo adalah perlambang dari sebuah masyarakat adat yang terpinggirkan, terisolasi dan terdiskriminasi. Ia adalah tokoh yang diharapkan bisa mengatasi kemiskinan dan marginalisasi masyarakat adat yang merupakan mayoritas. Untuk menjelaskan hal ini, lihat saja pidato politiknya yang dikutip dari majalah Political Affair Magazine, yakni :

“Apa yang terjadi sekarang di Bolivia adalah sebuah revolusi besar dari mereka yang tertindas selama 500 tahun lebih. Kehendak rakyat telah terwujud pada bulan September dan Oktober dengan sebuah episode besar kemenangan rakyat. Kita sendiri hidup bertahun-tahun dalam dua budaya penuh konfrontasi: budaya kehidupan yang diwakili penduduk asli, dan budaya kematian yang direprestansikan oleh Barat. Ketika kita sebagai suku asli bersama kelas pekerja dan pengusaha di negeri kita berjuang untuk mendapat hidup dan keadilan, Negara meresponnya dengan "demokrasi berdasar aturan hukum."

Apa maksud "aturan hukum" bagi penduduk asli? Bagi mereka yang miskin, termarginalisasi... "aturan hukum" berarti menjadi sasaran pembunuhan dan pembantaian
kolektif yang selama ini kita derita. Bukan hanya pada bulan September dan Oktober, tapi untuk bertahun-tahun, ketika mereka mencoba memajukan kebijakan memberantas kemiskinan dan kelaparan di masyarakat Bolivia. Pada akhirnya, "aturan hukum" berarti pengambil alihan milik kita; suku Quechuas, Aymaras dan Guaranties di Bolivia kerap mendengar dari pemerintah kita: bahwa kita pengedar narkoba, bahwa kita kaum anarkis. Kebangkitan rakyat Bolivia kali ini tak hanya terkait dengan minyak dan batu bara, tetapi merupakan persingungan banyak isu: diskriminasi, marginalisasi, dan yang terpenting adalah kegagalan neo-liberalisme.”

Ini merupakan pidato Evo Morales dalam konferensi "Mempertahankan Kemanusiaan" tanggal 24 Desember 2005. Pidato ini disampaikan Evo Morales setelah hasil pemilu menunjukkan ia mendapat 54 persen suara dalam pemilu Presiden di Bolivia.

Simbol perlawanan masyarakat adat Indian yang disematkan pada sosok Evo Morales bukanlah kalimat pemanis tanpa fakta. Lihat saja apa yang dikatakan oleh Luis Macas, presiden dari Confederation of Indigenous Nationalities of Ecuador (CONAIE), sebuah organisasi gerakan sosial yang paling kuat, kemenangan Morales merupakan peristiwa sejarah yang belum pernah terjadi sejak negeri itu merdeka dari penjajahan Spanyol se-abad lalu. Kemenangan Evo bukan hanya kemenangan rakyat Bolivia tapi, juga kemenangan seluruh wilayah Amerika Latin. Ungkapan senada dilontarkan oleh Rigoberto Menchú, seorang aktivis suku Indian Mayan, penerima hadiah nobel perdamaian pada 1992. Baginya, kemenangan Morales merupakan angin segar bagi Masyarakat adat, bahwa kemenangan Morales "merupakan sebuah preseden penting bagi perjuangan sosial di seluruh wilayah Amerika Latin.”

******

Selain menggugurkan tesis Fukuyama, berbagai fenomena yang terjadi di Amerika Latin, khususnya di Bolivia, setidaknya menunjukkan beberapa pelajaran penting, diantaranya: bahwa para pemimpin ini lahir dari rahim pergerakan rakyat. Mereka tidak lahir dari proses demokrasi liberal yang alami, melainkan merintisnya dari jalur gerakan sosial. Mereka bukan presiden dan pemimpin yang memperoleh popularitasnya karena bantuan sms, polling atau pun karena pandai menyanyi atau sedikit ganteng. Mereka juga bukan presiden yang lahir dari partai penguasa, juga bukan lahir dari pengusaha penetek kekuasaan, bukan pula intelektual yang rajin mengobral teori atau agamawan yang selalu berbicara ihwal moral. Berbekal ideologi populis dan kerakyatan, dan pengetahuan yang baik tentang cengkeraman kapitalisme di negerinya, para Presiden Radikal ini terlebih dahulu adalah orang-orang yang menggeluti penderitaan rakyat di masa mudanya. Lula adalah mantan aktivis buruh pabrik, Morales mantan gerilyawan pejuang masyarakat adat, sedangkan Chavez adalah militer berpangkat rendah yang nasionalistik dan dekat dengan aktivis gerakan sosial. Jadi, proses menjadi pemimpin betul-betul ditempa karena pergerakan dan ‘pergaulannya’ dengan rakyat tertindas.

Selain itu, kemenangan para Presiden radikal ini, merupakan sokongan dari aliansi dan konvergensi dari beberapa gerakan sosial yang cukup beragam. Mereka mencerminkan apa yang disebut sebagai Alan Touraine sebagai gerakan sosial baru, yaitu konvegensi dari gerakan masyarakat sipil seperti organisasi buruh, petani tak bertanah, gerakan masyarakat adat, gerakan lingkungan, gerakan mahasiswa, intelektual kota, gerakan keagamaan hingga partai politik dari beragam garis ideologi.***

No comments: